Review Sepatu Olahraga Lari Saucony Virrata Zero bagian 1


Review Sepatu Olahraga Lari Saucony Virrata Zero …

Zero drop!!! Dari sekian banyak pilihan sepatu ber-genre natural running shoes untuk di retail Indonesia sendiri masih didominasi dengan sepatu yang memiliki heeldrop di rentang 4 – 8 mm, seperti Saucony Kinvara (4 mm), Brooks Pure Connect (4 mm), Puma Faas 350 / 500 (4 – 6 mm), Skechers Go Run (4 mm). Nah untuk seri Skechers Go Ride di salah satu modelnya bahkan ada yang memiliki heeldrop sampai 2 mm. Cukup menarik!! Jarang sekali sepatu yang memiliki zero drop, di retail Indonesia saya hanya bisa menemukan zero drop pada produk Merrel seri M-Connect, yaitu Bare Access.

Namun sayangnya sepatu ini tergolong kurang well-cushioned, sehingga untuk pemula seperti saya yang akan memulai transisi dari sepatu konvensional yang cenderung memiliki heel-drop di atas 8 mm dengan ketebalan cushioning yang cukup tebal kemungkinan untuk mengalami cedera di area seperti achilles dan area lain, potensinya menjadi kian besar. Tapi Saucony sepertinya cukup jeli untuk memberikan opsi yang aman dengan meluncurkan Saucony Virrata yang memiliki zero drop namun masih wellcushioned. Pada deretan model natural running shoes, Saucony melengkapi pilihan nya mulai dari Saucony Mirage, Saucony Kinvara dan Saucony Virrata.

saucony virrata 3Memang saat ini sepatu berkonsep barefoot-style yang mengkoreksi gaya berlari menjadi lebih alami (natural running form) ala pelari-pelari Tarahumaratengah menjadi jargon tersendiri di tren sepatu lari. Saucony Virrata dapat ditemukan di Planet sport dengan harga Rp 1 juta, namun setau saya merk-merk sepatu seperti Saucony, Brooks dan Salomon tidak pernah di-display di counter Sport Station. Sebagai informasi tambahan, Virrata cenderung lebih pas untuk tipe telapak kaki yang memiliki high-arc yang biasanya terlihat jelas dari pola keausan sol yang lebih dominan di tepi bagian luartelapak kaki, biasa dikenal dengan istilah under pronator.

Review sepatu olahraga lari saucony virrata zero

saucony virrata 1Ok, agar lebih sedikit sistematis pembahasannya, kita sedikit mengintip checklist karakter dari natural running shoes: yang PERTAMA, sol bagian depan (forefoot area) harus fleksibel. Nah untuk ini Saucony Virrata sangat mengakomodir kefleksibelan yang mampu memberikan sensasi transisi pendaratan yang mulus, terlihat dari permukaan sol yang terdiri dari pod-pod berbentuk segitiga, bila diperhatikan lebih seksama, space antar tiap pod-pod tersebut merupakan bagian yang lebih tipis dari permukaan sol. Sehingga secara mekanika bagian tersebut akan lebih fleksibel dibanding pod yang lebih tebal, disinilah kuncinya yaitu kombinasi dari permukaan yang lebih tipis untuk memaksimalkan fleksibilitas dan permukaan yang lebih tebal yaitu pada bagian pod untuk memaksimalkan redaman (cushioning) sehingga singkatnya sepatu ini sangat fleksibel dan nyaman.

saucony virrata 2Konsep ini sebenarnya digunakan oleh Nike Free dan Skechers Go Run namun Saucony lebih jeli dalam pencarian bentuk pod yang ideal dimana karakter bentuk persegi pada Nike Free dan bentuk bulat pada Skecher tidak memiliki keistimewaan dari bentuk segitiga yang tidak memiliki sifat multi-directiona. Alhasil menjadikan sol Saucony lebih responsif, selain itu penempatan hard rubber pada permukaan sol tidak menganggu feeling sense pendaratan sehingga terasa lebih akurat. Meskipun dari level keempukan menurut saya sama-sama empuk. Efek bouncy / pantulan dari midsole (untuk sepatu Virrata, midsole = outsole) menurut saya Virrata lebih cocok dengan gaya berlari dengan high-cadence (frekuensi jumlah pijakan). bersambung.. *)runtastis.com


 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *